Working capital management

Working Capital Management: Arti, Fungsi, & Cara Menghitung

Bisnis membutuhkan uang untuk bisa menjalankan operasionalnya. Maka dari itu, perlu working capital management atau manajemen modal kerja untuk memastikan uang yang dimiliki bisnis mampu menutup seluruh biaya operasional. 

Selain itu, perhitungan modal kerja ini dapat menentukan kondisi keuangan perusahaan apakah bernilai positif atau negatif. Tanpa manajemen yang optimal, perputaran dana menjadi kurang efektif yang memengaruhi keberlangsungan bisnis.

Apalagi, modal kerja ini bukan hanya tentang memiliki banyak uang saja. Akan tetapi, bagaimana cara kamu mengelolanya sehingga perusahaan dapat memanfaatkan asetnya secara maksimal. 

Mengenal Apa Itu Working Capital Management

Mengutip Investopedia, working capital adalah hasil pengurangan antara aset lancar dan kewajiban lancar suatu perusahaan. 

Aset lancar (current assets) adalah kekayaan perusahaan yang bisa dicairkan menjadi uang tunai dengan mudah. 

Sementara kewajiban lancar (current liabilities) adalah tagihan utang perusahaan yang perlu dilunasi dalam jangka pendek. 

Apabila perusahaan memiliki aset lancar yang lebih besar daripada kewajiban lancar, modal kerjanya bernilai positif atau sehat. 

Itu artinya perusahaan mampu membayar kewajiban jangka pendeknya dengan tepat waktu. 

Sebaliknya, apabila kewajiban lancar lebih besar daripada nilai aset lancar, modal kerjanya akan negatif. 

Ini mengindikasikan adanya masalah likuiditas yang terjadi ketika perusahaan tidak mampu melunasi kewajiban lancarnya. 

Bagi investor, likuiditas rendah seolah rapor merah yang cenderung dihindari karena perusahaan dianggap tidak mampu mengelola utangnya dengan baik. 

Maka dari itu, manajemen modal kerja penting untuk menghindari masalah ini. 

Fungsi Working Capital Management

Pada dasarnya, manajemen modal kerja ini berisi keputusan keuangan jangka pendek guna memastikan bisnis memiliki arus kas yang cukup untuk beroperasi tanpa hambatan. Simak fungsi modal kerja berikut ini. 

1. Memenuhi Kebutuhan Dasar Bisnis

Bisnis tidak hanya tentang seberapa banyak uang yang masuk, tetapi bagaimana uang tersebut mampu memenuhi kebutuhan dasar bisnis dengan lancar. 

Adapun kewajiban pengeluaran bisnis yang perlu dikelola antara lain gaji karyawan, tagihan pemasok, utang, dan pajak. 

Seorang manajer keuangan perlu mengelola modal kerja untuk membayar berbagai tagihan tersebut saat jatuh tempo. 

2. Menjaga Kelancaran Operasional

Selanjutnya, kunci kelancaran operasional bisnis adalah ketika bisnis memiliki uang tunai yang cukup untuk mengisi kembali persediaan stok barang guna memenuhi pesanan pelanggan. 

Dengan begitu, operasional akan tetap berjalan tanpa harus menunggu stok barang yang datang terlambat dari pemasok lantaran belum cukup uang untuk restock. 

3. Mengurangi Ketergantungan Pada Pinjaman

Manajemen modal kerja yang sehat menandakan bisnis mampu membiayai pengeluarannya sendiri tanpa sering bergantung pada jasa pinjaman. 

Ini menjadi salah satu kriteria yang menarik bagi investor untuk menanam modal pada bisnis. 

Pasalnya, banyak kasus di mana bisnis akhirnya memutuskan mengajukan pinjaman kredit guna menutupi kekurangan kas sementara. 

Jika siklus ini terus berlanjut, investor bisa menghindar karena dianggap buruk mengelola keuangan. 

Jenis-Jenis Working Capital

Terdapat sejumlah jenis modal kerja yang bisa bisnis sesuaikan dengan kebutuhan operasionalnya. Apa sajakah itu?

1. Permanent Working Capital

Modal kerja ini bersifat tetap alias modal minimum yang selalu dibutuhkan untuk memastikan bisnis tetap dapat berjalan. Umumnya, semakin besar bisnis, semakin banyak modal tetap yang harus disiapkan. 

2. Temporary Working Capital

Working capital management

Temporary working capital atau modal kerja variabel adalah modal yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan bisnis musiman atau bersifat sementara. 

Misalnya, perusahaan fashion perlu modal kerja tambahan untuk menghadapi peningkatan permintaan produk baju hari raya pada momen Ramadhan dan Idul Fitri.

3. Gross Working Capital

Modal kerja kotor adalah nilai aset perusahaan yang dapat dengan mudah dicairkan. Contohnya seperti saham, uang tunai, piutang dagang, rekening bank, deposito, dan persediaan produksi. 

4. Net Working Capital

Net working capital adalah modal kerja bersih dari selisih aset lancar dan kewajiban lancar. 

Working capital management dibutuhkan untuk mendapat modal kerja bersih yang sehat, yang berarti perusahaan mampu memenuhi tagihan jangka pendeknya. 

5. Regular Working Capital

Termasuk dari bagian modal kerja tetap, regular working capital mencakup modal untuk kebutuhan operasional harian. 

Contoh dari modal ini antara lain pembayaran gaji/upah karyawan, persediaan bahan baku, dan biaya overhead. 

6. Reserve Working Capital

Jenis modal kerja berikutnya adalah reserve atau cadangan. Ini merujuk ke sejumlah dana yang perusahaan sisihkan untuk menangani situasi darurat. Misalnya terjadi PHK atau inflasi. 

Cara Menghitung Working Capital

Bagi kamu yang ingin mengetahui efektivitas working capital management, dapat menggunakan rumus berikut untuk menghitungnya. 

  • Working Capital = Current Assets – Current Liabilities 

Namun, sebelum melakukan operasi pengurangannya, pastikan kamu telah mengumpulkan data yang dibutuhkan. 

Mukai dari aset lancar (current assets) seperti uang tunai, piutang usaha, persediaan barang, dan lain sebagainya. 

Kemudian, kewajiban lancar (current liabilities) seperti utang usaha, gaji karyawan, hingga pajak terutang. 

Perhatikan perhitungan contoh working capital berikut:

  • Perusahaan XYZ memiliki total aset lancar sebesar Rp75.000.000 dan total kewajiban lancar sebesar Rp45.000.000. Maka, aset lancar – kewajiban lancar = Rp75.000.000 – Rp45.000.000 = Rp30.000.000. 
  • Perusahaan KLM memiliki total aset lancar sebesar Rp100.000.000 dan total kewajiban lancar sebesar Rp120.000.000. Maka working capitalnya, Rp100.000.000 – Rp120.000.000 = – Rp20.000.000.

Dari hasil kedua perusahaan tersebut, perusahaan XYZ dengan working capital sebesar Rp30.000.000 menunjukkan nilai yang positif dan menandakan perusahaan masih memiliki sisa dana. 

Sementara itu, perusahaan KLM dengan working capital sebesar – Rp20.000.000 menunjukkan nilai yang negatif karena dana tidak cukup untuk menutupi kewajiban lancar. 

Mengukur Working Capital Ratio

Working capital ratio adalah indikator keuangan untuk mengukur kemampuan perusahaan melunasi kewajiban lancar menggunakan aset lancar. Rumusnya adalah sebagai berikut:

  • Working capital ratio = Current Assets : Current Liabilities

Hasil perhitungan rasio tersebut apabila menunjuk angka 1,0 atau lebih, menandakan perusahaan mampu memenuhi kewajiban utang jangka pendeknya. Sebaliknya, rasio di bawah 1,0 menandakan ada masalah likuiditas. 

Masih menggunakan data perusahaan XYZ dan KLM sebelumnya, begini perhitungan rasio modal kerjanya. 

  • Working capital ratio perusahaan XYZ = Rp75.000.000 : Rp45.000.000 = 1,67. 
  • Working capital ratio perusahaan KLM = Rp100.000.000 : Rp120.000.000 = 0,83.

Berdasarkan hasil perhitungan rasio modal tersebut, perusahaan XYZ dinilai mampu mengelola kewajiban lancar jangka pendek dengan baik. 

Sementara perusahaan KLM mengalami kendala untuk memenuhi kewajiban jangka pendeknya. 

Akan tetapi, working capital rasio yang terlalu tinggi juga bukan merupakan tanda baik. Hal ini justru menunjukkan perusahaan tidak mampu mengelola asetnya secara efisien sehingga kas hanya menumpuk tanpa ada perputaran. 

Jadi, itulah pembahasan seputar working capital management yang penting perusahaan perhatikan. 

Menjaga keseimbangan antara aset dan kewajiban lancar memastikan perusahaan dapat bernapas lega untuk menjalankan operasional harian.

Populer Posts