ancaman siber ai

5 Ancaman Siber AI yang Mengintai, Harus Waspada!

Kegunaan Artificial Intelligence (AI) salah satunya adalah meningkatkan keamanan data. Namun, ironisnya, ancaman siber AI juga bisa mengintai karena pelaku kejahatan memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan ini untuk menyerang target. 

Di sisi lain, sebagian masyarakat masih memiliki kesadaran yang rendah terkait perlindungan data. 

Kondisi ini rentan membuat mereka tertipu memberikan informasi sensitif melalui pesan berbasis AI yang sebenarnya termasuk serangan siber. 

Baca Juga: Inovasi Digital dalam Bisnis: Definisi, Manfaat, Contoh, dan Tantangannya

Mengapa Serangan Siber AI Berbahaya?

Serangan siber adalah segala bentuk upaya kejahatan digital yang bertujuan merusak atau mencuri data ke sistem komputer atau perangkat digital. 

Sementara serangan siber AI adalah bentuk serangan siber yang memanfaatkan kecerdasan buatan untuk meningkatkan efektivitas dan kecanggihan dalam menyerang. 

Serangan siber dengan teknologi AI semakin berbahaya karena AI mampu meningkatkan skala serangan menjadi lebih cepat, pintar, dan sulit terdeteksi. 

Bagi perusahaan atau instansi yang masih memakai sistem keamanan konvensional tentu akan kewalahan menghadapi serangan ini. Itulah mengapa semua pihak perlu waspada dengan dampak negatif perkembangan AI yang semakin pesat.  

Jenis-Jenis Ancaman Siber AI

Supaya kamu tidak menjadi korban dari ancaman AI yang semakin canggih dan disalahgunakan oleh oknum tidak bertanggung jawab, simak pembahasan berikut ini:

1. Phishing

Phishing merupakan jenis serangan siber yang menargetkan informasi sensitif milik korban seperti username, password, hingga data keuangan seperti kartu kredit dan rekening bank. 

Biasanya, serangan ini dilakukan melalui email, pesan teks, atau media sosial dengan cara menipu korban agar mengklik tautan tertentu atau mengunduh file berbahaya. 

Salah satu contoh kasus ancaman siber di Indonesia adalah maraknya phising dengan mengirim file aplikasi ke WhatsApp. 

File tersebut adalah undangan pernikahan, yang apabila target unduh dapat menguras rekening tabungan.

Apalagi setelah adanya AI, serangan phishing kini semakin cerdas. AI mampu menghasilkan pesan yang mirip seperti informasi resmi. 

Selain itu, chatbot berbasis AI juga dapat menjadi sarana penipuan melalui percakapan real time. 

Chatbot dapat berinteraksi dengan korban selayaknya manusia. Lalu, setelah berhasil membangun kepercayaan, korban akan diminta untuk memberikan informasi sensitifnya.  

Baca Juga: 4 Cara Pakai AI untuk Chat WA, Bisa Balas Chat Non-Stop! 

2. Ransomware

Ransomware bekerja layaknya penyanderaan digital. Begitu berhasil masuk ke sistem, perangkat lunak berbahaya ini langsung mengunci seluruh data penting milik pengguna. 

Kemudian, pelaku akan meminta sejumlah uang tebusan agar data yang terkunci tersebut dapat pulih kembali. 

Serangan ini semakin canggih dan sulit terdeteksi karena bantuan kecerdasan buatan. Ancaman siber AI telah meningkatkan serangan ransomware menjadi lebih presisi dan kompleks. 

Melansir Erafone, AI memungkinkan untuk memetakan pola perlindungan sistem target, mencari titik celah keamanan, hingga penyebaran ransomware yang semakin cepat dan mengenkripsi data dengan algoritma yang rumit. 

Bagi perusahaan, dampak serangan ransomware berbasis AI ini tidak sebatas kerugian finansial atau downtime operasional. Kebocoran data pelanggan, rusaknya reputasi perusahaan, dan hilangnya kepercayaan publik turut menjadi risiko yang perlu dihadapi. 

3. Deepfake

ancaman siber ai

Serangan siber yang menggunakan teknologi AI dan paling mengkhawatirkan adalah deepfake. Deepfake adalah konten video atau audio palsu yang meniru wajah, ekspresi, bahan suara seseorang dengan AI. 

Pada tingkat yang tinggi, deepfake hampir tidak bisa dibedakan dengan yang aslinya. Alhasil, deepfake berpotensi menjadi alat disinformasi yang memanipulasi opini publik hingga memicu konflik berkat narasi palsu yang tampak meyakinkan. 

Hal ini juga berdampak pada pencemaran nama baik individu maupun organisasi yang menjadi target konten palsu. 

Mereka menerima hujatan publik atas konten yang tidak pernah benar-benar mereka lakukan. 

Semua orang perlu menaruh perhatian yang serius pada serangan ini, mengingat semakin banyak alat-alat AI canggih dan data individu yang melimpah di internet sehingga memudahkan pelaku untuk membuat konten palsu. 

4. Serangan Botnet AI

Mengutip penelitian oleh Hermawan dkk., (2023) serangan botnet dapat terjadi melalui berbagai perangkat Internet of Things (IoT) seperti komputer, CCTV, perangkat seluler, dan kamera web. 

Setelah perangkat tersebut terinfeksi, botmaster akan mengendalikan dan memantaunya dari jarak jauh. 

Alhasil, mungkin tanpa kamu sadari, perangkat tersebut telah menjadi zombie digital yang siap melancarkan serangan ke korban. 

Penelitian oleh Hermawan dkk., juga mencantumkan data dari Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN), dominasi anomali trafik MyloBot Botnet di Indonesia mencapai 44,62% atau lebih dari 730 juta anomali pada tahun 2021. 

Dampak dari botnet setelah terpasang, yakni mampu menonaktifkan windows defender dan menyebabkan perangkat kehilangan data. Serangan AI ini dapat menyebar melalui email spam dan file unduhan yang terinfeksi. 

5. Serangan DDoS

Tujuan dari serangan Distributed Denial of Service (DDoS) adalah melumpuhkan suatu layanan online. Cara kerjanya dengan membanjiri server target menggunakan lalu lintas palsu. 

Perkembangan AI menyebabkan serangan DDoS semakin sulit teratasi. Pasalnya, penyerang kini mampu mengkoordinasikan ribuan perangkat dalam waktu bersamaan untuk menyerang satu target. 

Bagi perusahaan atau instansi yang terkena serangan DDoS tentu mengalami kerugian yang sangat besar mulai dari kerugian finansial, menurunnya kepercayaan pelanggan, dan reputasi yang tercoreng. 

Baca Juga: 10+ Aplikasi Chatbot AI Terbaik untuk Bisnismu, Biar Makin Efisien!

Berbagai jenis ancaman siber AI tersebut adalah sisi lain dari AI yang tidak hanya membawa manfaat tetapi juga risiko. 

Oleh karena itu, perusahaan atau instansi perlu menyusun strategi teknologi yang komprehensif untuk menghadapinya. 

Adapun contoh penggunaan teknologi AI yang membawa dampak positif, yakni seperti produk dari Rekan.ai berupa sistem ERP berbasis AI agar operasional bisnis semakin efektif. 

Kami mengembangkan sistem ERP mulai dari CRM, inventori, sampai manajemen SDM ke dalam satu platform untuk memudahkan bisnis kamu. Kunjungi Rekan.ai sekarang untuk informasi lebih lanjut. 

Populer Posts