Pengelolaan keuangan bisnis atau perusahaan, membutuhkan pemahaman yang mendalam. Dalam prosesnya, kamu mungkin bertemu dengan istilah fixed cost atau biaya tetap.
Secara sederhana, definisi fixed cost adalah total pengeluaran yang tetap dan tidak berubah, tanpa dipengaruhi oleh tingkat produksi hingga penjualan yang terjadi.
Pemahaman soal biaya tetap ini tentu penting karena bisa mempengaruhi perencanaan hingga harga jual produk.
Ingin tahu lebih lengkap tentang fixed cost? Cek sini!
Apa Itu Fixed Cost?
Fixed cost artinya biaya tetap yang perusahaan wajib keluarkan secara rutin dalam periode tertentu, baik bulanan maupun tahunan, tanpa melihat seberapa besar aktivitas produksi atau penjualan yang terjadi.
Jadi, ketika perusahaan hanya memproduksi satu unit barang atau justru memproduksi ribuan unit sekaligus, nominal fixed cost tetap sama selama belum ada perubahan kontrak, kebijakan, atau struktur biaya.
Konsep ini penting karena fixed cost hadir sebagai “biaya wajib hidup” dalam bisnis. Selama usaha masih berjalan, biaya ini tetap muncul.
Bahkan ketika penjualan sedang lesu, fixed cost tetap menunggu untuk dibayar. Karena itu, banyak pelaku usaha yang merasa arus kas terasa berat pada awal bisnis.
Bukan karena usaha tidak laku, melainkan karena fixed cost sudah lebih dulu menekan keuangan.
Kalau kamu butuh gambaran sederhana, fixed cost mirip dengan sewa rumah kontrakan. Mau rumah itu kamu tempati setiap hari atau kamu tinggal seminggu penuh, biaya sewa tetap berjalan.
Pemilik kontrakan tidak peduli soal aktivitas kamu. Ia hanya peduli soal kewajiban pembayaran setiap bulan. Pola yang sama berlaku dalam bisnis.
Dalam praktik bisnis, orang sering menyebut fixed cost sebagai overhead cost atau biaya tidak langsung.
Penyebutan ini muncul karena biaya tersebut tidak masuk langsung ke proses produksi barang atau jasa, namun tetap memegang peran besar dalam menjaga operasional usaha tetap berjalan.
Apa Perbedaan Fixed Cost dan Variable Cost?
Dalam penghitungannya, biaya tetap ini selalu berdampingan dengan kebalikannya, yakni variable cost. Nah, keduanya itu berbeda dan jangan sampai kamu mencampur-adukkannya:
1. Fixed Cost
Fixed cost memiliki karakter utama berupa nominal yang relatif tetap dalam jangka waktu tertentu.
Perubahan volume produksi atau penjualan tidak langsung memengaruhi besarannya. Selama tidak ada perubahan kebijakan, kontrak, atau skala usaha, fixed cost akan terus muncul dengan angka yang sama.
Perusahaan tetap membayar fixed cost meskipun kondisi pasar sedang lesu atau permintaan menurun.
Situasi inilah yang sering membuat fixed cost terasa “kejam”, terutama bagi bisnis baru yang belum mencapai penjualan stabil.
Contoh fixed cost antara lain sewa gedung, gaji karyawan tetap, asuransi usaha, biaya lisensi, serta biaya penyusutan aset. Semua biaya tersebut tetap muncul karena keberadaan usaha, bukan karena aktivitas produksi.
2. Variable Cost
Variable cost bergerak mengikuti aktivitas bisnis. Ketika produksi meningkat, maka biaya ini ikut naik.
Sebaliknya, saat produksi menurun, biaya ini ikut turun. Hubungan antara variable cost dan volume produksi bersifat langsung dan mudah terlihat.
Biaya bahan baku, upah tenaga kerja berbasis unit, komisi penjualan, serta biaya pengemasan masuk ke kategori variable cost.
Tanpa produksi, biaya ini hampir tidak muncul. Karena itu, variable cost sering terasa lebih “ramah” ketika bisnis mengalami penurunan permintaan.
Dengan kata lain, fixed cost tetap berjalan tanpa melihat aktivitas usaha, sementara variable cost ikut bergerak sesuai aktivitas yang terjadi. Pemahaman ini penting karena strategi pengelolaan kedua biaya ini sangat berbeda.
Jenis-Jenis Fixed Cost dalam Akuntansi dan Bisnis
Fixed cost adalah biaya yang tidak hadir dalam satu bentuk tunggal. Dalam praktik akuntansi dan manajemen bisnis, perusahaan mengenal beberapa kategori fixed cost berdasarkan tingkat fleksibilitas dan pengaruhnya terhadap keputusan manajemen:
1. Committed Fixed Cost
Committed fixed cost adalah biaya tetap yang sifatnya mengikat dan sulit berubah dalam jangka pendek.
Perusahaan sudah menyepakati biaya ini melalui kontrak jangka panjang atau keputusan strategis yang tidak bisa dibatalkan secara cepat tanpa konsekuensi besar.
Sewa gedung kantor atau pabrik masuk kategori ini karena perusahaan terikat kontrak sewa selama periode tertentu.
Gaji manajemen tetap juga termasuk committed fixed cost karena berkaitan dengan struktur organisasi inti.
Selain itu, cicilan aset tetap seperti mesin produksi atau kendaraan operasional juga masuk kelompok ini.
Committed fixed cost sering muncul sebagai konsekuensi dari keputusan besar yang perusahaan ambil pada awal atau fase ekspansi.
Karena sifatnya kaku, biaya ini menuntut perencanaan matang sejak awal. Kesalahan membaca kapasitas pasar bisa membuat committed fixed cost berubah menjadi beban berat yang sulit dilepas.
2. Discretionary Fixed Cost
Kemudian, ada fixed cost yang berlaku dalam satu periode. Tapi, manajemen masih punya ruang untuk menyesuaikan besarannya di periode selanjutnya. Namanya Discretionary Fixed Cost.
Biaya ini muncul karena kebijakan, bukan karena kontrak jangka panjang yang mengikat.
Biaya iklan, biaya pelatihan karyawan, serta anggaran riset dan pengembangan termasuk dalam kategori ini. Perusahaan bisa menaikkan atau menurunkan anggaran sesuai kondisi keuangan dan strategi bisnis.
Fleksibilitas ini membuat discretionary fixed cost sering menjadi “katup pengaman” ketika perusahaan menghadapi tekanan keuangan. Namun, pengurangan berlebihan pada pos ini juga berisiko karena bisa menghambat pertumbuhan jangka panjang.
3. Separable Fixed Cost
Terakhir, ada Separable Fixed Cost. Ini adalah biaya tetap yang bisa perusahaan pisahkan berdasarkan unit, divisi, atau cabang. Setiap bagian usaha memiliki biaya tetap sendiri yang bisa manajemen evaluasi secara terpisah.
Contohnya meliputi biaya pemeliharaan server untuk divisi IT, sewa ruang kantor cabang, atau biaya operasional khusus untuk unit bisnis tertentu.
Karena sifatnya terpisah, manajemen bisa menilai kinerja tiap divisi dengan lebih objektif.
Jenis fixed cost ini sangat membantu ketika perusahaan ingin mengevaluasi efisiensi dan profitabilitas setiap lini bisnis.
Tanpa pemisahan yang jelas, maka perusahaan sering salah menilai unit mana yang sebenarnya menyumbang keuntungan.
7 Contoh Fixed Cost yang Sering Muncul di Berbagai Jenis Usaha

Fixed cost apa aja? Berikut beberapa contoh biaya tetap yang sering muncul dalam berbagai jenis usaha:
1. Sewa Gedung, Kantor, atau Pabrik
Biaya sewa tetap muncul setiap periode tanpa memperhatikan tingkat produksi atau jumlah transaksi yang terjadi. Selama kontrak berjalan, biaya ini tidak berubah.
2. Gaji Karyawan Tetap
Perusahaan membayar gaji staf tetap dengan nominal yang sama setiap bulan. Jadi, jumlah produk atau jasa yang terjual tidak memengaruhi gaji ini.
3. Premi Asuransi
Asuransi usaha, asuransi aset, atau asuransi karyawan biasanya memiliki nilai premi tetap dalam satu periode tertentu.
4. Biaya Penyusutan Aset
Fixed cost lainnya yakni biaya penyusutan aset. Perusahaan mencatat penyusutan mesin, kendaraan, atau peralatan kantor secara rutin. Aktivitas produksi tidak mengubah nilai penyusutan tersebut.
5. Pajak Properti dan Pajak Tetap Lainnya
Pajak bangunan atau pajak izin usaha tetap muncul sesuai ketentuan pemerintah, terlepas dari kondisi penjualan.
6. Cicilan Pinjaman Jangka Panjang

Perusahaan tetap membayar cicilan dan bunga pinjaman sesuai jadwal yang sudah disepakati.
7. Biaya Administrasi Kantor
Terakhir, contoh fixed cost yakni biaya administrasi kantor. Misalnya seperti internet kantor, layanan keamanan, serta sistem langganan perangkat lunak sering memiliki biaya tetap per bulan.
Bagaimana Cara Menghitung Fixed Cost? Ikuti Langkah Ini!
Setelah tahu arti, bedanya fixed cost dan variable cost, hingga contohnya, sekarang kita lanjut ke cara menghitungnya. Kalau mau penghitungan yang tepat, ikuti langkah-langkah penghitungan biaya tetap ini:
1. Identifikasi Semua Biaya Tetap
Mulailah dengan mencatat seluruh biaya yang muncul secara rutin dan memiliki nominal relatif sama setiap periode. Kamu bisa mengambil data dari laporan keuangan atau catatan operasional.
2. Pisahkan dari Variable Cost
Pastikan kamu hanya memasukkan biaya yang benar-benar tidak berubah karena aktivitas produksi. Gaji tetap masuk fixed cost, sementara upah berbasis unit masuk variable cost.
3. Jumlahkan Semua Fixed Cost
Setelah memilah biaya, jumlahkan seluruh fixed cost untuk mendapatkan total biaya tetap per periode.
Contohnya:
Sewa kantor sebesar Rp10.000.000, gaji karyawan tetap Rp15.000.000, serta premi asuransi Rp2.000.000.Jadi, total fixed cost mencapai Rp27.000.000 per bulan.
4. Hitung Average Fixed Cost per Unit (Opsional)
Jika ingin tahu beban fixed cost per unitnya, maka rumus fixed cost yang harus kamu gunakan yakni bagi total fixed cost dengan jumlah unitnya.
Dengan total fixed cost Rp27.000.000 dan produksi 1.000 unit, average fixed cost per unit mencapai Rp27.000. Angka ini membantu kamu menentukan harga jual yang lebih rasional.
Kelola Biaya dan Operasional Bisnis Lebih Tertata dengan Sistem Kasir Digital
Fixed cost sering terasa berat bukan karena nilainya besar, tapi karena sulit kamu pantau secara rapi.
Biaya sewa, gaji, langganan sistem, sampai operasional harian kerap jalan sendiri tanpa data yang jelas.
Di sinilah peran sistem kasir modern jadi relevan. Lewat RekanBooks, kamu bisa memantau transaksi, laporan keuangan, hingga performa usaha secara real time, sehingga fixed cost bisa kamu kelola dengan lebih sadar dan terukur.
Kalau kamu ingin bisnis tetap sehat tanpa tebak-tebakan, saatnya beralih Aplikasi POS RekanBooks dan rasakan kontrol penuh atas operasional usaha kamu. Yuk, coba sekarang!
Reskia Ekasari, S.E. merupakan profesional di bidang keuangan dengan pengalaman lebih dari empat tahun dalam analisis finansial dan strategi pemasaran digital. Lulusan Akuntansi Universitas Sriwijaya ini dikenal karena kemampuannya mengintegrasikan data, efisiensi keuangan, dan digital marketing untuk mendorong pertumbuhan bisnis.