inventory turnover

Inventory Turnover: Arti, Rumus, dan Standarnya di Setiap Industri

​​Inventory turnover adalah istilah yang sering muncul di laporan keuangan, dashboard operasional, atau bahan diskusi manajemen. 

Sayangnya, banyak bisnis melihatnya sebagai angka belaka, tanpa benar-benar paham cerita apa yang angka itu sampaikan. 

Padahal, dari satu rasio ini, kamu bisa membaca efisiensi gudang, ketepatan strategi pembelian, sampai kualitas keputusan penjualan.

Kalau kamu mengelola bisnis yang punya stok barang, maka sekecil apa pun skalanya, inventory turnover selalu relevan. 

Angka inilah yang akan membantu kamu memahami apakah persediaan bekerja untuk bisnis, atau justru menahan laju pertumbuhan tanpa kamu sadari.

Ingin tahu lebih lengkap soal  inventory turnover atau rasio perputaran persediaan? Cek sini!

Baca Juga: 5 Fungsi Sistem Inventory yang Tidak Boleh Disepelekan

Apa Itu Inventory Turnover?

Jadi, Inventory turnover ratio adalah adalah ukuran seberapa cepat barang yang ada di gudang terjual lalu tergantikan dalam satu periode tertentu, biasanya satu tahun. 

Rasio ini memperlihatkan hubungan langsung antara stok dan penjualan, sehingga kamu bisa menilai apakah persediaan bergerak aktif atau justru stagnan.

Inventory turnover bukanlah angka di laporan keuangan saja. Namun, angka ini mencerminkan cara bisnis mengelola modal kerja, mengatur ritme pasokan, dan membaca permintaan pasar. 

Ketika inventory turnover menunjukkan nilai tinggi, kamu bisa membaca sinyal bahwa barang bergerak cepat dan strategi persediaan berjalan efektif. 

Sebaliknya, ketika angkanya rendah, ada kemungkinan stok menumpuk terlalu lama, lalu modal usaha tertahan tanpa menghasilkan arus kas.

Dalam praktiknya, inventory turnover membantu kamu menjawab pertanyaan penting. Seberapa cepat stok berubah menjadi penjualan. 

Seberapa lama uang berhenti pada rak gudang. Dan seberapa efisien keputusan pembelian yang selama ini kamu ambil. 

Semua itu berkumpul dalam satu rasio yang terlihat sederhana, tapi sarat makna operasional.

Rumus Inventory Turnover Dasar

Rasio perputaran persediaan ini punya rumus tersendiri untuk menghitungnya. Paling banyak menggunakan komponen Harga Pokok Penjualan (HPP) atau COGS. Berikut perhitungannya: 

Inventory Turnover = Cost of Goods Sold (COGS)/ Rata-rata Persediaan

COGS merepresentasikan total biaya barang yang benar-benar terjual dalam periode tertentu. 

Komponen ini penting karena mencerminkan nilai riil barang yang keluar dari gudang, bukan sekadar nilai penjualan kotor. 

Dengan begitu, hasil perhitungan inventory turnover menjadi lebih akurat dan lebih dekat dengan kondisi operasional sebenarnya.

Sementara itu, average inventory biasanya kamu hitung dari rata-rata persediaan awal dan persediaan akhir dalam satu periode. Rumus sederhananya:

(Persediaan Awal + Persediaan Akhir) ÷ 2

Pendekatan ini membantu kamu menghindari bias angka. Kalau kamu hanya memakai satu titik waktu, misalnya stok akhir saja, maka hasilnya bisa menyesatkan karena fluktuasi persediaan hampir selalu terjadi sepanjang tahun.

Beberapa bisnis memilih metode lain, seperti memakai angka penjualan atau menghitung inventory secara lebih rinci per SKU. 

Namun, penggunaan COGS tetap menjadi standar yang paling aman karena konsisten dengan prinsip akuntansi dan mencerminkan pergerakan barang yang nyata.

Contoh Perhitungan Inventory Turnover

Supaya konsepnya terasa lebih konkret, mari lihat contoh sederhana dari bisnis retail:

1. Contoh Perhitungan Retail

Misalnya sebuah toko memiliki data sebagai berikut dalam satu tahun:

  • COGS tahun berjalan sebesar $500.000
  • Persediaan awal tercatat $100.000
  • Persediaan akhir tercatat $80.000

Langkah pertama, kamu hitung rata-rata persediaan:

Rata-rata persediaan = ($100.000 + $80.000) ÷ 2 = $90.000

Setelah itu, kamu masukkan angka tersebut ke rumus inventory turnover:

Inventory Turnover = 500.000 ÷ 90.000 > 5,56

Angka 5,56 berarti toko tersebut berhasil menjual dan menggantikan seluruh persediaannya sekitar lima setengah kali dalam setahun. 

Dengan kata lain, stok tidak diam terlalu lama. Barang bergerak, uang berputar, dan gudang bekerja sesuai fungsinya.

Namun, angka ini baru bermakna penuh ketika kamu membandingkannya dengan standar industri atau performa bisnis sejenis. Tanpa perbandingan, inventory turnover hanya menjadi angka matematis tanpa konteks.

2. Menghitung Hari Penjualan Persediaan (DSI)

Selain melihat inventory turnover dalam bentuk rasio, kamu juga bisa memahaminya dalam bentuk waktu. 

Pendekatan ini dikenal sebagai Days Sales of Inventory atau DSI. DSI menunjukkan rata-rata jumlah hari yang dibutuhkan sebuah barang untuk terjual sejak masuk gudang.

Rumusnya sebagai berikut:

DSI = (Average Inventory / COGS) × 365

DSI membantu kamu menerjemahkan rasio ke dalam satuan hari yang lebih mudah dicerna. 

Ketika DSI menunjukkan angka kecil, kamu bisa menyimpulkan bahwa barang cepat berpindah dari gudang ke tangan pelanggan. 

Sebaliknya, DSI yang besar memberi sinyal bahwa stok bertahan terlalu lama sebelum menghasilkan penjualan.

Dalam konteks manajemen kas, DSI punya peran penting. Semakin lama barang berada dalam persediaan, semakin lama pula modal usaha tertahan. 

Dengan memahami DSI, maka kamu bisa menilai seberapa efisien siklus operasional bisnis dari sisi persediaan.

Apa Arti Angka Inventory Turnover pada Bisnismu? 

Kamu mungkin sudah melihat angka-angkanya dalam laporan keuangan.Tapi, angka inventory turnover artinya apa? Apa yang tengah ditunjukkan dalam angka tersebut? 

1. Rasio Tinggi

Rasio inventory turnover yang tinggi biasanya menandakan penjualan berjalan lancar dan manajemen stok bergerak gesit. Barang cepat keluar, lalu stok baru segera masuk sesuai kebutuhan.

Kondisi ini memberi beberapa keuntungan nyata. Biaya penyimpanan menurun karena barang tidak lama berada dalam gudang. 

Selain itu, arus kas bergerak lebih cepat karena modal segera kembali dalam bentuk uang. Risiko barang rusak atau kedaluwarsa juga ikut menurun.

Namun, rasio yang terlalu tinggi bisa memunculkan masalah lain. Persediaan yang terlalu tipis berisiko memicu kehabisan stok. 

Ketika permintaan meningkat tiba-tiba, bisnis bisa kehilangan peluang penjualan karena stok tidak siap.

2. Rasio Rendah

inventory turnover

Rasio inventory turnover yang rendah sering menunjukkan stok menumpuk atau penjualan melambat. 

Dalam situasi ini, barang bertahan lama dalam gudang tanpa kontribusi langsung pada pendapatan.

Risikonya cukup jelas. Modal usaha terikat lebih lama. Biaya penyimpanan meningkat seiring waktu. 

Selain itu, peluang barang menjadi usang atau tidak relevan juga ikut membesar, terutama pada produk dengan siklus tren cepat.

Karena itu, rasio rendah seharusnya memicu evaluasi menyeluruh, mulai dari strategi pembelian, akurasi peramalan permintaan, sampai efektivitas promosi.

Baca Juga: Stock Replenishment: Arti, Tujuan, 7 Metode, dan Alur Kerjanya!

Standar Inventory Turnover yang Baik di Setiap Industri 

Setiap industri memiliki karakter inventory turnover yang berbeda. Tidak ada satu angka ideal yang berlaku untuk semua bisnis. Setiap industri bergerak dengan ritme yang berbeda, dipengaruhi oleh jenis produk, pola permintaan, serta kebiasaan beli pelanggan. 

Karena itu, angka inventory turnover yang terlihat “rendah” pada satu sektor bisa saja justru tergolong sehat pada sektor lain. Namun, ada benchmark inventory turnover yang masuk akal untuk setiap bisnis: 

1. Grocery & FMCG, Perputaran Cepat Itu Harus

Bisnis grocery dan FMCG hidup dari kecepatan. Produk seperti makanan, minuman, dan kebutuhan harian punya batas usia dan risiko kedaluwarsa. Karena itu, inventory turnover tinggi menjadi keharusan.

Pada sektor ini, inventory turnover yang sehat biasanya berada pada kisaran 8 – 15 kali per tahun atau lebih. 

Angka tersebut menunjukkan bahwa stok terus bergerak dan tidak terlalu lama tertahan. 

Ketika rasio jatuh jauh di bawah standar ini, biasanya muncul masalah penumpukan barang yang langsung berdampak ke arus kas.

2. Retail Umum & Fashion

Retail fashion dan produk berbasis tren bergerak cepat mengikuti musim dan selera pasar. Barang yang laku hari ini bisa kehilangan daya tarik dalam hitungan bulan.

Inventory turnover yang baik berapa untuk retail umum dan fashion? Untuk sektor ini, inventory turnover sekitar 4 – 10 kali per tahun masih tergolong sehat. 

Rasio terlalu rendah sering menandakan stok terlalu banyak atau koleksi kurang relevan. Sebaliknya, rasio yang terlalu tinggi bisa berarti stok terlalu tipis dan peluang penjualan terlewat.

3. Elektronik

Produk elektronik menghadapi risiko usang akibat perkembangan teknologi. Namun, pola pembeliannya tetap lebih terencana dibanding FMCG.

Inventory turnover yang baik pada sektor elektronik biasanya berada di kisaran 4,5 – 8 kali per tahun. 

Angka ini menunjukkan keseimbangan antara ketersediaan produk dan kecepatan penjualan tanpa tekanan stok berlebih.

4. Furnitur & Barang Rumah Tangga

Kemudian, inventory turnover dari produk-produk furnitur & barang rumah tangga biasanya lebih lambat. 

Pasalnya, nilai unitnya tinggi dan tidak dibeli secara rutin. Karena itu, inventory turnover 2,5 – 5 kali per tahun masih tergolong normal. 

Rasio ini mencerminkan siklus pembelian yang lebih panjang dan bukan sinyal masalah selama penjualan tetap konsisten.

Baca Juga: 7 Cara Mengoptimalkan Inventory dengan Efektif dan Efisien

5. Otomotif, Barang Nilai Tinggi, Perputaran Moderat

inventory turnover

Pada sektor otomotif, baik kendaraan maupun suku cadang besar, proses penjualan biasanya memakan waktu lebih lama.

Inventory turnover sekitar 5 – 8 kali per tahun sering dianggap ideal. Rasio ini menunjukkan pergerakan stok yang stabil tanpa tekanan overstock berlebihan.

6. Industri Berat & Peralatan Besar, Turnover Rendah Wajar

Alat berat dan peralatan industri memiliki harga tinggi dan frekuensi pembelian rendah. Pada sektor ini, inventory turnover 1 – 3 kali per tahun sudah termasuk wajar.

Angka rendah tidak otomatis berarti tidak efisien. Justru, rasio tersebut mencerminkan karakter produk yang memang jarang berpindah tangan.

7. Wholesale/Distribusi

Bisnis grosir dan distribusi menekankan volume dan kontinuitas pasokan. Inventory turnover 4 – 8 kali per tahun sering menjadi titik tengah yang sehat, cukup cepat tanpa membuat stok terlalu tipis.

8. Layanan & Jasa

Pada bisnis jasa dengan komponen stok kecil, inventory turnover bisa sangat tinggi, bahkan di atas 20 kali per tahun. 

Kondisi ini wajar karena fokus bisnis terletak pada layanan, bukan penyimpanan barang.

Cara Meningkatkan Inventory Turnover Bisnismu

Dengan tahu angka ideal dari setiap bisnis, kamu pasti sudah paham jika setiap bisnis perlu mencapai standarnya. Nah jika bisnismu berada di angka perputaraan persediaan yang rendah, maka berikut cara meningkatkannya: 

  • Perbaiki peramalan permintaan, untuk menentukan jumlah stock yang jadi kebutuhan. 
  • Optimalisasi rantai pasok agar stok datang lebih cepat dan sering. 
  • Menerapkan sistem make-to-order. 
  • Mengendalikan biaya dan penyusutan barang. 

Kelola Stok Lebih Cerdas untuk Inventory Turnover yang Konsisten dengan RekanBooks!

Inventory turnover yang konsisten butuh sistem pencatatan stok yang rapi dan mudah kamu pantau setiap hari. 

RekanBooks membantu kamu melihat pergerakan barang secara real time, mulai dari stok masuk, stok keluar, sampai sisa persediaan. 

Dengan data yang jelas, maka kamu bisa mengatur pembelian lebih tepat, menghindari penumpukan barang, dan menjaga arus kas tetap sehat. 

Semua keputusan soal stok jadi berbasis data, bukan perkiraan, sehingga inventory turnover berjalan lebih stabil dan bisnis bergerak lebih efisien.

Dengan sistem berbasis cloud pula, kamu bisa mengakses data bisnis kapan saja dan di mana saja. Yuk, coba RekanBooks!

Populer Posts